For a better experience please change your browser to CHROME, FIREFOX, OPERA or Internet Explorer.
8 Mitos Mobil Listrik dan Faktanya, Apa Saja?

8 Mitos Mobil Listrik dan Faktanya, Apa Saja?

Teknologi baru umumnya rentan menuai kritik. Begitu pula dengan mobil listrik yang belakangan ramai diperbincangkan publik.

Beberapa orang beranggapan bahwa penggunaan mobil listrik hanya ada di masa depan. Padahal, sering kali anggapan tersebut merupakan kesalahpahanan yang disebabkan oleh mitos yang melekat dalam benak kaum awam terhadulu.

Mari kita lihat beberapa mitos yang beredar di masyarakat tentang Electric Vehicle (EV).

Mitos #1: Mobil listrik tidak mampu berjalan jauh

Salah satu mitos yang ketinggalan zaman adalah mobil listrik memiliki jarak tempuh yang sangat terbatas, serta letak stasiun pengisian daya sangat jarang ditemui.

Fakta:

Jarak tempuh mobil listrik terbaru, seperti Hyundai Kona EV mampu menyentuh angka 305 km dalam satu kali pengisian daya. Bahkan untuk model Hyundai Ioniq 5 menurut Worldwide Harmonized Light Vehicle Test Procedure memiliki jarak tempuh maksimum hingga 470 km.

hyundai ioniq 5

Hyundai telah mendirikan stasiun pengisian daya EV di 180 titik dari Sumatra hingga Papua. Jumlah ini terus meningkat seiring waktu.

Mitos #2: Mobil listrik mahal

Kesalahpahaman lain yang sering muncul adalah mobil listrik memiliki banderol yang mahal.

Fakta:

EV memang lebih mahal untuk dibeli, namun biaya operasional dan perawatannya jauh lebih kecil dibandingkan kendaraan mobil bensin dan diesel.

Pemilik mobil listrik tidak perlu membayar pajak dan bea balik nama kendaraan berkat dukungan pemerintah terhadap penghematan konsumsi energi BBM dan peningkatan kualitas lingkungan.

Mitos #3: Baterai mobil listrik hanya bertahan beberapa tahun

Baterai EV dianggap harus sering diganti adalah salah. Karena sebagian besar produsen mobil listrik saat ini memiliki garansi delapan hingga sepuluh tahun.

Fakta:

Dengan lebih dari 10 juta populasi EV di dunia saat ini, belum ada bukti yang menyatakan bahwa umur kendaraan lebih rendah daripada kendaraan berbahan bakar bensin atau diesel.

hyundai ioniq 5

Sebagian besar baterai kendaraan listrik memiliki garansi sekitar delapan tahun atau 160.000 km dan sangat mungkin akan bertahan jauh lebih lama.

Seiring kecanggihan teknologi, masa pakai baterai baru akan terus meningkat.

Mitos #4: Baterai EV tidak ramah lingkungan

Banyak yang mempertanyakan seberapa ramah lingkungan mobil listrik sebenarnya karena limbah baterai dikenal sebagai salah satu penyebab masalah lingkungan.

Fakta:

Indonesia memiliki upaya untuk meningkatkan pasokan bahan baterai EV yang transparan, berkelanjutan, dan etis.

Peraturan yang ada melarang pembuangan baterai EV ke tempat pembuangan akhir dan atau pembakaran.

Produsen baterai wajib mengambil kembali baterai EV secara gratis dan memastikan dapat didaur ulang sesuai dengan standar yang berlaku.

Mitos #5: Mengisi daya kendaraan listrik memakan waktu lama

Salah satu perbedaan paling mencolok antara mobil listrik dan mobil bensin adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengisi bahan bakar.

Fakta:

Kecepatan pengisian daya telah meningkat lima kali lipat dalam beberapa tahun terakhir karena para insinyur mulai fokus pada EV sebagai masa depan dari moda transportasi.

hyundai ioniq 5

Mobil listrik yang beredar kini seperti Hyundai IONIQ 5 memiliki teknologi ultra-fast charging yang mampu mengisi daya 80% hanya dalam 18 menit. Sementara lima menit charge dapat memberikan jarak tempuh 100 km*.

Mitos #6: Jaringan listrik tidak akan mampu bertahan bila semua orang beralih ke mobil listrik

Jaringan energi listrik diragukan mampu memenuhi permintaan listrik yang dibutuhkan untuk mobil listrik. Karena masing-masing EV memiliki kapasitas daya yang besar untuk jarak tempuh yang lebih jauh.

Fakta:

Komitmen pemerintah terhadap perbaikan lingkungan akan dilakukan sejalan dengan pembangunan infrastruktur yang memadai.

Teknologi smart-charging juga dapat mengurangi kebutuhan infrastruktur yang baru.

Mitos #7: Battery swap merupakan cara yang lebih baik

Battery swap merupakan sistem dimana menukar baterai mobil listrik yang sudah habis dengan yang penuh. Meskipun konsep itu terdengar hebat dan mudah, ada beberapa batasan berarti yang tidak memungkinkan untuk dilakukan dalam waktu dekat.

Fakta:

Penukaran baterai membutuhkan berbagai penyesuaian teknologi dalam hal standarisasi baterai antara model dan merek.

hyundai ioniq 5

Dengan adanya fitur fast-charging, waktu yang dibutuhkan untuk mengisi daya melalui colokan listrik tidak jauh berbeda dengan menukar baterai.

Mitos #8: Colokan mobil listrik memiliki model yang tidak sama sehingga sulit untuk menemukan stasiun pengisian daya yang sesuai

Tidak dapat disangkal bahwa infrastruktur pengisian daya merupakan tantangan besar bagi evolusi EV hingga saat ini.

Fakta:

Kementerian ESDM telah menetapkan tiga tipe colokan standar mobil listrik.

Penjualan EV di Indonesia didominasi oleh Hyundai, dimana jenama asal Korea Selatan itu sudah membangun ratusan stasiun pengisian daya di seluruh penjuru Indonesia.

Pemerintah menargetkan pada 2025 telah terpasang 2.465 unit SPKLU di lokasi-lokasi yang mudah dijangkau masyarakat.


Baca juga

leave your comment


Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Whatsapp dengan CS kami disini :)
Call Now Button